Guberur BI Ingatkan Prospek Ekonomi Global Meredup Hingga 2027
- account_circle Abdul Kadir
- calendar_month Ming, 30 Nov 2025
- visibility 9
- comment 0 komentar

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025. (Foto: Tangkapan Layar youtube.com/@KanalBankIndonesia)
Jakarta, Transdata.id – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa prospek perekonomian global diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat hingga tahun 2027.
Hal itu disampaikan Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia yang digelar di Kompleks Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, Jumat (29/11).
Menurut Perry, terdapat lima faktor utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa tahun mendatang, mulai dari kebijakan tarif perdagangan hingga penggunaan kripto yang belum teratur.
1. Kebijakan Tarif Resiprokal Amerika Serikat
Perry menjelaskan, kebijakan tarif berbalas yang diberlakukan Amerika Serikat telah menekan volume perdagangan internasional dan meredupkan semangat multilateralisme global.
“Kebijakan tarif Amerika Serikat berlanjut mengakibatkan turunnya perdagangan dunia, meredupnya multilateralisme, bangkitnya bilateral dan regionalisme,” ujarnya.
2. Perlambatan Ekonomi AS dan China
Dua negara ekonomi terbesar dunia, AS dan China, mengalami perlambatan pertumbuhan. Kondisi ini berdampak pada tertahannya penurunan inflasi global, sekaligus menyulitkan kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.
3. Tingginya Utang dan Suku Bunga Negara Maju
Perry menyebutkan bahwa defisit fiskal besar yang terjadi di negara-negara maju membuat suku bunga tetap tinggi. Kondisi tersebut menekan beban fiskal negara berkembang.
“Karena defisit fiskal yang terlalu besar berdampak pada tingginya bunga dan beban fiskal di negara-negara berkembang,” ungkapnya.
4. Risiko Sistem Keuangan Meningkat
Risiko kerentanan sistem keuangan global meningkat akibat lonjakan transaksi produk derivatif, terutama yang melibatkan hedge fund dengan machine trading.
5. Maraknya Stablecoin Tanpa Regulasi
Faktor terakhir adalah meningkatnya adopsi stablecoin oleh perusahaan swasta yang belum memiliki pengaturan dan pengawasan jelas.
“Maraknya uang kripto dan stablecoin pihak swasta. Belum ada pengaturan dan pengawasan yang jelas. Disinilah perlunya central bank digital currency,” tegas Perry.
Indonesia Tetap Waspada
Perry menegaskan bahwa Indonesia juga tidak kebal terhadap tekanan global tersebut. Karena itu, BI bersama pemerintah akan terus merespons dengan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
“Penting untuk eling lan waspodo, seperti nasehat Ronggowarsito. Prospek ekonomi global masih meredup pada tahun 2026 dan 2027,” pungkasnya.
- Penulis: Abdul Kadir


Saat ini belum ada komentar